PENGANTAR [PENGUCAPAN KERONGKONGAN] -DARI PENGUCAPAN SUARA DASAR SAMPAI PENGUCAPAN KATA DENGAN [CARA MINUM TEH]-

By darmonomalang

PENGANTAR [PENGUCAPAN KERONGKONGAN]

-DARI PENGUCAPAN SUARA DASAR SAMPAI PENGUCAPAN KATA

DENGAN [CARA MINUM TEH]-

by: ORGANISASI SOSIAL GINREI-KAI

***

DAPATKAN KEMBALI SUARA YAN HILANG AKIBAT OPERSI PEMOTONGAN TENGGOROKAN

LATIHAN [PENGUCAPAN KERONGKONGAN]

1. Mengeluarkan suara meskipun tanpa pita suara

Kita, yang akibat kanker pangkal tenggorokan (bahasa Inggris : Larynx) dan kanker tekak bawah (bahasa Inggris : Hypopharynx), menjalani operasi pemotongan pangkal tenggorokan menjadi orang yang kehilangan pita suara. Meskipun sesaat kita akan kehilangan suara sama sekali, tetapi dengan usaha terus menerus untuk mengetahui adanya cara yang tepat, kita bisa mendapatkan kembali suara kita dan bisa kembali bercakap-cakap dengan teman dan keluarga, serta bisa beraktivitas kembali di tempat bekerja dan di tengah masyarakat tidak berbeda sebagaimana sebelumnya.

2. Bagaimana Caranya?

Berbagai macam cara, baik yang menggunakan alat maupun tidak telah diteliti dalam rangka untuk mendapatkan kembali suara bagi penderita kehilangan pita suara. Masing-masing kelompok cara tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan, tetapi dari hasil membandingkan banyak contoh, penilaian secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa [Cara Pengucapan Kerongkongan] merupakan cara yang paling bagus.

Bagi semua penderita kehilangan pita suara, dengan latihan yang tepat, cara ini adalah cara yang mudah untuk dilaksanakan.

3. Apa yang dimaksud dengan [Pengucapan Kerongkongan]

[Pengucapan Kerongkongan] adalah cara bersuara dengan cara berikut: Pertama-tama kita memasukkan udara melalui mulut dan hidung ke dalam kerongkongan, kemudian udara tersebut dialirkan ke arah berlawanan, dan udara ini akan menggetarkan lipatan membran pada pintu masuk kerongkongan yang berfungsi sebagai engganti pita suara. Dengan kata lain cara bersuara dengan menyengaja bersendawa dan menggunakannya sebagai suara baru. Cara ini adalah cara untuk menghasilkan suara asli tanpa menggunakan alat bantu.

4. Kalau kita bisa berendawa maka kita bisa bersuara

Anda sekalian seharusnya pernah mengalami bersendawa dengan tempo tertentu, baik sebelum maupun sesudah menjalani operasi. Sendawa adalah suara yang keluar dari bibir dan sejenisnya ditimbun di dalam lambung, kemudian mengalir dengan arah terbalik di dalam kerongkongan sehingga menggetarkan membran pada pintu masuk kerongkongan. Orang yang pernah bersendawa, dengan sedikit memahami caranya akan dengan mudah mendapatkan kembali suara kedua dengan cara [Pengucapan Kerongkongan].

5. Mekanisme bersuara

Sebelum menjalani operasi, kita bersuara dengan menggetarkan pita suara yang ada di tengan pangkal tenggorokan dengan menghembuskan kembali udara yang dihisap ke dalam paru-paru melalui mulut dan hidung. Suara tersebut menjadi suara dasar dan kemudian dengan mengatur gabungan serta bentuk bibir, gigi, lidah, langit-langit mulut bagian belakang, tenggorokan, rongga hidung dan lain-lain yang kita gunakan sebagai alat pengatur suara, kita bisa menyuarakan vokal dan konsonan, kemudian dengan menambahkan tinggi-rendah serta kuat-lemahnya suara kita menyuarakan kata-kata.

Kita yang kehilangan pita suara bersuara dengan [Pengucapan Kerongkongan]. Kita menghisap udara kedalam kerongkongan, kemudian udara tersebut dialirkan terbalik dan menggetarkan lipatan membran pada pintu masuk kerongkongan yang berfungsi debagai celah suara baru menggantikan pita suara. Asal kita bisa mengeluarkan suara dasar ini, makan denan menggunakan alat penatur suara yang ama dengan sebelum operasi sebagaimana yang sudah disampaikan di muka, kita bisa menyuarakan kata-kata.

6. Hal penting untuk mempelajari [Pengucapan Kerongkongan]

Mari kita pahami bahwa kitapenderita kehilangan pita suara, dengan leher bagian depan dilubangi dan udara yang kita hisap dari lubang buatan pada tenggorokan tidak bisa digunakan untuk menghasilkan suara. Dan mari kita sadari bahwa memasukkan udara ke dalam kerongkongan merupakan dasar [Pengucapan Kerongkongan]. Karena hal ini tidak pernah dialami pada waktu sebelum operasi maka kelihatannya sulit, tetapi sebenarnya asal memahami sedikit rahasianya, siapapun akan dengan mudah bisa melakukannya.

Yang jelas cara ini tidak akan berjalan baik kalau hanya dipikirkan dengan otak. Sebagaimana jika anda belajar naik sepeda atau belajar berenang, dimana anda harus memegang setang sepeda atau mengapungkan badan di air, yang penting adalah bahwa cara ini diingat dengan latihan berulang kali dan bukan hanya dengan teori saja.

7. Cara memasukkan udara ke dalam kerongkongan

Ada dua cara dasar memasukkan udara. Pertama, [cara menuang udara], dengan menekan udara dari atas ke dalam kerongkongan dengan menggunakan bibir, rongga mulut, pangkal lidah, tekak dan sebagainya. Kedua [cara menghisap], yaitu dengan cara pernapasan perut memberi tekanan pada kerongkongan dan pada saat bersamaan bagian mulut kerongkongan, sehingga udara bisa dihisap ke dalam kerongkongan.

Cara kedua [cara menghisap] merupakan cara yang baik dan ideal untuk mengeluarkan suara yang lebih alami dan halus dengan[Pengucpan Kerongkongan]. Oleh karena itu [cara menghisap] perlu dipahami oleh yang sudah mahir, tetapi untuk pemula lebih dulu memahami [cara menuang udara] yang lebih mudah dan juga bisa dikatakan sebagai jalan pintas untuk menerapkan cara[Pengucapan Kerongkongan]

8. Susunan dan Fungsi Tenggorokan

Sebelum menjalani operasi, secara alami kami memasukkan makanan dari mulut ke lambung dengan melalui kerongkongan, kemudian menghisap udara dari mulut dan hidung, mengalirkannya ke paru-paru melalui pangkal tenggorokan dan batang tenggorok. Hal ini karena membuka dan menutupnya katup tenggorok, serta mengencang dan mengendurnya mulut kerongkongan terkoordinasi dengan baik, dan sudah diatur agar tidak terjadi dengan arah yang sebaliknya.

Dengan kata lain, sejak awal mulut kerongkongan berfungsi agar sebisa mungkin mencegah masuknya udara ke dalam kerongkongan dan lambung. Sebaliknya kita, untuk [Pengucapan Kerongkongan], harus memasukkan udara ke dalam kerongkongan. Diantaranya memang ada yang sejak awal berhasil melakukannya, namun karena berlawanan dengan teori alam, maka merupakan hal biasa jika pada awalnya siapapun kurang berhasil. Bagi kita penderita kehilangan tenggorokan, udara yang dihisap melalui mulut hanya bisa ditekan ke dalam kerongkongan. Dalam banyak kasus, kebiasaan yang sudah disampaikan dimuka bekerja sebagai reaksi berlawanan, sehingga udara yang akan dimasukkan kedalam kerongkongan mengalir ke rongga hidung, dan akibatnya tidak berhasil mengendurkan mulut kerongkongan dan memasukkan udara ke dalam kerongkongan.

9. Melatih ‘menuang udara’ dengan cara minum teh

Untuk melatih pergerakan awal ini secara alami, cepat dan mudah, ‘cara minumteh’ telah diusulkan sebagai caranya. Hal ini sesuai yang diajarkan oleh Ketua Ginrei-kai Bapak Shouji Nakamura, sejak tahun 1980-an, yaitu cara menelan teh yang ada di dalam mulut sambil secara bersamaan memasukkan udara ke dalam kerongkongan.

Dengan ‘cara minum teh’ ini, hampir semua orang yang melatih [pengucapan kerongkongan] berhasil mengeluarkan suara dasar dalam tempo singkat atau waktu pendek.

Keberhasilan ini tidak hanya terjadi hanya di Jepang saja, tetapi juga di banyak negara Asia, dimana Ginrei-kai menjadi pelaksana untuk melatih [pengucapan kerongkongan].

cara melatih ‘cara minum teh’ ini dikemukakan secara terperinci pada penjelasan berikutnya. Silahkan membacanya dengan teliti, memahami, serta mencobanya secara berurutan sampai berhasil. Asal dasar suara sudah keluar, [pengucapan kerongkongan] anda akan terus bertambah bagus seiring dengan latihan yang anda lakukan setelah itu. Dengan memahirkan [pengucapan kerongkongan] sebagai suara kedua, bukalah lembaran hidup baru. Saya berdoa untuk keberhasilan Anda.

10. Bagi orang yang menjalani operasi untuk menyehatkan kembali kerongkongan.

Kondisi mereka yang sebagai akibat kanker tekak bawah atau kanker kerongkongan bagian leher, kehilangan pangkal tenggorokan sekaligus sebagian dari kerongkongan, dan menjalani penyehatan kerongkongan denan mencangkokkan sebagian lambung, usus atau kulit, sedikit berbeda. Mulut kerongkongan baru mereka ini tidak sempit, sehingga dibandingakan orang yang hanya mengalami operasi pemotongan pangkal tenggorokan, mereka mempunyai keuntungan dalam hal kemudahan mengatur udara. Sebaliknya, karena mulut kerongkongan mereka lebar, mereka sulit untuk melindungi celah udara, sehingga tidak mudah mengeluarkan suara dasar.

Sebagaimana mereka yang hanya menderita kehilangan pangkal tenggorokan, ‘cara minum teh’ juga berguna untuk melatih suara dasar bagi mereka yang menjalai operasi penyehatan kerongkongan. Tetapi tergantung dari jenis operasi yang dijalani, bisa berhasil dengan baik juga bisa tidak. Untuk hal seperti ini maka perlu mencoba cara lain.

Di antara mereka yang menaglami operasi penyehatan kerongkongan, banyak yang dari awal berhasil menguasau cara menambil udara denan ‘cara menghisap’ sebagaimana yang dijelaskan dimuka. Jika dengan pernapasan perut mereka menghisap udara banyak-banyak dari lubang di tenggorokan, maka dada akan menembang dan secara alami udara akan dihisap ke dalam kerongkongan

Meskipun udara bisa masuk ke kerongkongan, namun jika getaran celah suara sulit diperoleh, maka akan terjadi kesulitan mengeluarkan suara dasar. Dalam kasus ini, perlu menjamin bagian yang digetarkan dengan mempersempit mulut kerongkongan baru. Kita harus bisa menemukan posisi celah suara baru yang akan mengeluarkan suara dasar, dengan menekan leher bagian depan, sedikit di atas lubang tenggorokan, dengan jari. Bagi mereka yang mengalami operasi penyehatan kerongkongan yang sudah bisa menghisap udara ke dalam kerongkongan namun kurang berhasil mengeluarkan suara dasar, tidak boleh hanya dengan ‘cara minum teh’ saja. Dengan menekan-nekan bagian leher membalikkan aliran udara di dalam kerongkongan, harus bisa menemukan keras lemahnya tekanan jari serta tempat menekan yang tepat di leher dalam rangka mengeluarkan suara dasar.

Mereka yang mengalami operasi penyehatan kerongkongan hanya sekitar 25% dari penderita kehilangan pangkal tenggorokan. Jenis dan besar kecilnya operasi sangat bervariasi pada setiap orang. Oleh karena itu, jika setiap orang bisa menemukan teman yang mirip kondisinya, kemudian saling bertukar pikiran, dan bisa saling menawasi, akan sangat bermanfaat untuk memahirkan [pengucapan kerongkongan].

Tinggalkan Balasan